Senin, 24 November 2014

LANDASAN PSIKOLOGIS



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Landasan Psikologis
Psikologis merupakan kajian tentang tingkah laku individu. Landasan psikologis dalam bimbingan dan konseling berarti landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien).
Pada uraian berikut dibahas beberapa aspek psikologis dan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi yang perlu dipahami oleh pembimbing agar dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling secara akurat dan bijaksana, dalam upaya memfasilitasi individu mengembangkan potensi dirinya secara optimal.
B.     Motif, Konflik, Frustasi dan Sikap Individu
1.      Motif
Motif adalah dorongan yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Chaplin (1975) Yusuf dan Nurihsan (2005: 159) mengemukakan, bahwa motif itu adalah “A state of tension within the in which arouses, maintains and direct behavior toward a goal.”(Satu kekuatan dalam diri individu yang melahirkan, memelihara dan mengarahkan perilaku kepada suatu tujuan).
Motif dapat dikelompokkan kedalam, motif primer atau dasar (basic motive) yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak ia terlahir ke dunia, seperti : kebutuhan untuk menghilangkan rasa lapar, bernafas dan sejenisnya. Motif sekunder yang terbentuk bersamaan dengan proses perkembangan individu yang bersangkutan atau terbentuk dari hasil belajar, seperti : berpakaian, melakukan penelitian, mengumpulkan benda-benda antik, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan.
2.      Konflik
Dalam kehidupan sehari-hari, kadang-kadang individu menghadapi beberapa macam motif yang saling bertentangan. Dengan demikian individu berada dalam keadaan konflik psikis, yaitu suatu pertentangan batin, suatu kebimbangan, suatu keragu-raguan, motif mana yang akan diambilnya. Motif-motif yang dihadapi individu itu, mungkin semuanya positif atau mungkin negatif, dan mungkin juga campuran antara positif dan negatif. Yusuf dan Nurihsan (2005 : 161), dalam hal tersebut konflik dapat dibedakan ke dalam 3 jenis yaitu sebagai berikut.
a)      Konflik mendekat-mendekat, yaitu kondisi psikis yang dialami individu, karena menghadapi dua motif positif yang sama kuat. Motif positif ini maksudnya adalah motif yang disenangi atau yang diinginkan individu.
b)      Konflik menjauh-menjauh, yaitu karena individu menghadapi dua motif negatif yang sama kuat. Motif negatif ini adalah motif yang tidak disenangi individu.
c)      Konflik mendekat menjauh, adalah karena individu menghadapi satu situasi mengandung motif positif dan negatif sama kuat.
3.      Frustrasi
Kekecewaan dalam diri individu yang disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan. Pengertian lain frustrasi adalah “rasa kecewa yang mendalam, karena tujuan yang dikehendaki tak kunjung terlaksana.”
Adapun sumber yang menyebabkan frustrasi, mungkin berwujud manusia, benda, peristiwa, keadaan alam dan sebagainya. Sarlito Wirawan Sarwono mengelompokkan frustrasi menjadi tiga golongan, yaitu sebagai berikut.
a)      Frustrasi Lingkungan, yaitu frustrasi yang disebabkan oleh rintangan yang terdapat dalam lingkungan.
b)      Frustrasi Pribadi, yaitu frustrasi yang timbul dari ketidakmampuan orang itu mencapai tujuan. Dengan kata lain, frustrasi tersebut timbul, karena adanya perbedaan antara keinginan dengan tingkat kemampuannya. Atau adanya perbedaan antara ideal self dengan real self-nya.
c)      Frustrasi Konflik, yaitu frustrasi yang disebabkan oleh konflik dari berbagai motif dalam diri seseorang. Dengan adanya motif-motif yang saling bertentangan, maka pemuasan diri dari salah satunya akan menyebabkan frustrasi bagi yang lain.
Ada beberapa wujud dari cara-cara individu dalam mereaksikan frustrasinya, di antaranya adalah sebagai berikut.
1)      Agresi marah, yaitu akibat tujuan yang akan dicapainya mengalami kegagalan.
2)      Bartindak secara eksplosif, yaitu dengan ucapan-ucapan atau mengeluarkan unek-uneknya.
3)      Dengan cara introversi, yaitu dengan jalan menarik diri dari dunia nyata, dan masuk ke dunia khayal.
4)      Perasaan tak berdaya, yaitu menunjukkan sikap pasif, patah hati, kurang semangat, dan mungkin juga menderita sakit.
5)      Kemunduran, yaitu menunjukkan kemunduran dalam tingkah laku. seperti, tingkah laku yang kekanak-kanakan.
6)      Fiksasi, yaitu mengulang kembali sesuatu yang menyenangkan atau tidak mau menuju ke perkembangan berikutnya.
7)      Penekanan, yaitu dengan cara menekan pengalaman traumatis, keinginan, kekesalan atau ketidaksenangan ke alam tidak sadar.
8)      Rasionalisasi, yaitu usaha-usaha mencari-cari dalih pada orang lain untuk menutupi kesalahan (kegagalan diri sendiri).
9)      Proyeksi, yaitu individu melemparkan sebab kegagalannya kepada orang lain atau sesuatu di luar dirinya.
10)        Kompensasi, yaitu individu berusaha untuk menutupi kekurangan atau kegagalannya dengan cara-cara lain yang dianggapnya memadai.
11)        Sublimasi, yaitu mengalihkan tujuan pada tujuan lain yang mempunyai nilai sosial atau etika yang lebih tinggi.
4.      Sikap Individu
Sikap adalah kondisi mental yang relatif menetap untuk merespon suatu objek atau perangsang tertentu yang mempunyai arti, baik bersifat positif, netral, atau negatif, menyangkut aspek-aspek kognisi, afeksi dan kecenderungan untuk bertindak. Seorang ahli psikologi W.J Thomas (dalam Ahmadi, 1999), yang memberikan batasan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat positif maupun negatif, yang berhubungan dengan obyek psikologi. Obyek psikologi di sini meliputi : simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya. Beberapa aspek atau unsur (komponen) sikap individu, antara lain.
a)      Unsur Kognisi, unsur ini terdiri atas keyakinan atau pemahaman individu terhadap objek-objek tertentu. Misal, sikap kita terhadap minuman keras dan sebagainya. Kita meyakini bahwa miras itu hukumnya haram.
b)      Unsur Afeksi, unsur ini menunjukkan perasaan yang menyertai sikap individu terhadap suatu objek. Unsure ini bisa bersifat positif (menyetujui/bersahabat), dan negatif (tidak menyetujui/ sikap bermusuhan).
c)      Unsur Kecenderungan Bertindak, meliputi seluruh kesediaan individu untuk bertindak/bereaksi terhadap objek tertentu.

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Individu

Perkembangan ( Development ) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu antara lain.

1.      Hereditas (Keturunan)
Hereditas merupakan factor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai “totalitas karakteristik individu yang diwariskan orangtua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen.
2.      Lingkungan
Lingkungan adalah segala hal yang mempengaruhi individu, sehingga individu itu terlihat/terpengaruh karenanya. Semenjak masa konsepsi dan masa-masa selanjutnya, perkembangan individu dipengaruhi oleh mutu makanan yang diterimanya, temperature udara sekitarnya, suasana dalam keluarga, sikap-sikap orang sekitar, hubungan dengan sekitarnya, suasana pendidikan. Dengan kata lain, individu akan menerima pengaruh dari lingkungan, memberi respon kepada lingkungan, mencontoh atau belajar tentang berbagai hal dari lingkungan dan dapat dikemukakan bahwa hubungan antara manusia dengan lingkungan itu bersifat saling mempengaruhi.
3.      Kematangan

Adalah “siapnya suatu fungsi kehidupan, baik fisik maupun psikis untuk berkembang dan melakukan tugasnya.” Dalam arti lain, Kematangan atau masa peka menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik kulminasi (titik puncak) dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak kesiapan dari suatu fungsi untuk menjalankan fungsinya. (Hurlock, 1956).










BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Landasan psikologis ialah landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Landasan psikologis ini mencakup beberapa aspek yaitu meliputi: Motif, Konflik, Frustrasi, Sikap. Serta factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu yaitu, Hereditas (Keturunan), Lingkungan (baik lingkungan keluarga, sekitar, ataupun teman sebaya), dan Kematangan individu.


B.     Saran-Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam konteks penulisan maupun isinya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik, saran, dan masukan yang sifatnya membangun dari para pembaca untuk menjadikan makalah ini lebih sempurna untuk dijadikan sebagai salah satu sumber belajar untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas wawasan berpikir bagi para pembaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar