BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Landasan Psikologis
Psikologis merupakan kajian tentang
tingkah laku individu. Landasan psikologis dalam bimbingan dan konseling
berarti landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku
individu yang menjadi sasaran layanan (klien).
Pada uraian berikut dibahas beberapa
aspek psikologis dan factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi yang
perlu dipahami oleh pembimbing agar dapat memberikan layanan bimbingan dan
konseling secara akurat dan bijaksana, dalam upaya memfasilitasi individu
mengembangkan potensi dirinya secara optimal.
B.
Motif, Konflik, Frustasi dan Sikap
Individu
1.
Motif
Motif adalah dorongan yang menggerakkan
seseorang bertingkah laku. Chaplin (1975) Yusuf dan Nurihsan (2005: 159)
mengemukakan, bahwa motif itu adalah “A
state of tension within the in which arouses, maintains and direct behavior
toward a goal.”(Satu kekuatan dalam diri individu yang melahirkan,
memelihara dan mengarahkan perilaku kepada suatu tujuan).
Motif dapat dikelompokkan kedalam, motif
primer atau dasar (basic motive)
yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu
semenjak ia terlahir ke dunia, seperti : kebutuhan untuk menghilangkan rasa
lapar, bernafas dan sejenisnya. Motif sekunder yang terbentuk bersamaan
dengan proses perkembangan individu yang bersangkutan atau terbentuk dari hasil
belajar, seperti : berpakaian, melakukan penelitian, mengumpulkan benda-benda
antik, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya.
Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam
diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi
ekstrinsik)–, menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang
mengarah pada suatu tujuan.
2.
Konflik
Dalam kehidupan sehari-hari,
kadang-kadang individu menghadapi beberapa macam motif yang saling
bertentangan. Dengan demikian individu berada dalam keadaan konflik psikis,
yaitu suatu pertentangan batin, suatu kebimbangan, suatu keragu-raguan, motif
mana yang akan diambilnya. Motif-motif yang dihadapi individu itu, mungkin
semuanya positif atau mungkin negatif, dan mungkin juga campuran antara positif
dan negatif. Yusuf dan Nurihsan (2005 : 161), dalam hal tersebut konflik dapat
dibedakan ke dalam 3 jenis yaitu sebagai berikut.
a) Konflik mendekat-mendekat, yaitu kondisi psikis yang dialami
individu, karena menghadapi dua motif positif yang sama kuat. Motif positif ini
maksudnya adalah motif yang disenangi atau yang diinginkan individu.
b) Konflik menjauh-menjauh, yaitu karena individu menghadapi
dua motif negatif yang sama kuat. Motif negatif ini adalah motif yang tidak
disenangi individu.
c) Konflik mendekat menjauh, adalah karena individu menghadapi
satu situasi mengandung motif positif dan negatif sama kuat.
3.
Frustrasi
Kekecewaan dalam diri individu yang
disebabkan oleh tidak tercapainya keinginan. Pengertian lain frustrasi adalah
“rasa kecewa yang mendalam, karena tujuan yang dikehendaki tak kunjung
terlaksana.”
Adapun sumber yang menyebabkan
frustrasi, mungkin berwujud manusia, benda, peristiwa, keadaan alam dan
sebagainya. Sarlito Wirawan Sarwono mengelompokkan frustrasi menjadi tiga
golongan, yaitu sebagai berikut.
a)
Frustrasi Lingkungan, yaitu frustrasi yang disebabkan
oleh rintangan yang terdapat dalam lingkungan.
b)
Frustrasi Pribadi, yaitu frustrasi yang timbul dari
ketidakmampuan orang itu mencapai tujuan. Dengan kata lain, frustrasi tersebut
timbul, karena adanya perbedaan antara keinginan dengan tingkat kemampuannya.
Atau adanya perbedaan antara ideal self
dengan real self-nya.
c)
Frustrasi Konflik, yaitu frustrasi yang disebabkan
oleh konflik dari berbagai motif dalam diri seseorang. Dengan adanya
motif-motif yang saling bertentangan, maka pemuasan diri dari salah satunya
akan menyebabkan frustrasi bagi yang lain.
Ada beberapa wujud dari cara-cara
individu dalam mereaksikan frustrasinya, di antaranya adalah sebagai berikut.
1)
Agresi marah, yaitu akibat tujuan yang akan
dicapainya mengalami kegagalan.
2)
Bartindak secara eksplosif, yaitu dengan ucapan-ucapan atau
mengeluarkan unek-uneknya.
3)
Dengan cara introversi, yaitu dengan jalan menarik diri
dari dunia nyata, dan masuk ke dunia khayal.
4)
Perasaan tak berdaya, yaitu menunjukkan sikap pasif,
patah hati, kurang semangat, dan mungkin juga menderita sakit.
5)
Kemunduran, yaitu menunjukkan kemunduran dalam
tingkah laku. seperti, tingkah laku yang kekanak-kanakan.
6)
Fiksasi, yaitu mengulang kembali sesuatu
yang menyenangkan atau tidak mau menuju ke perkembangan berikutnya.
7)
Penekanan, yaitu dengan cara menekan
pengalaman traumatis, keinginan, kekesalan atau ketidaksenangan ke alam tidak
sadar.
8)
Rasionalisasi, yaitu usaha-usaha mencari-cari
dalih pada orang lain untuk menutupi kesalahan (kegagalan diri sendiri).
9)
Proyeksi, yaitu individu melemparkan sebab
kegagalannya kepada orang lain atau sesuatu di luar dirinya.
10)
Kompensasi, yaitu individu berusaha untuk
menutupi kekurangan atau kegagalannya dengan cara-cara lain yang dianggapnya
memadai.
11)
Sublimasi, yaitu mengalihkan tujuan pada
tujuan lain yang mempunyai nilai sosial atau etika yang lebih tinggi.
4.
Sikap Individu
Sikap adalah kondisi mental yang
relatif menetap untuk merespon suatu objek atau perangsang tertentu yang
mempunyai arti, baik bersifat positif, netral, atau negatif, menyangkut
aspek-aspek kognisi, afeksi dan kecenderungan untuk bertindak. Seorang ahli psikologi W.J Thomas (dalam Ahmadi,
1999), yang memberikan batasan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang
bersifat positif maupun negatif, yang berhubungan dengan obyek psikologi. Obyek
psikologi di sini meliputi : simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan
sebagainya. Beberapa aspek atau unsur (komponen) sikap individu, antara lain.
a)
Unsur Kognisi, unsur ini terdiri atas keyakinan
atau pemahaman individu terhadap objek-objek tertentu. Misal, sikap kita
terhadap minuman keras dan sebagainya. Kita meyakini bahwa miras itu hukumnya
haram.
b)
Unsur Afeksi, unsur ini menunjukkan perasaan yang
menyertai sikap individu terhadap suatu objek. Unsure ini bisa bersifat positif
(menyetujui/bersahabat), dan negatif (tidak menyetujui/ sikap bermusuhan).
c)
Unsur Kecenderungan Bertindak, meliputi seluruh kesediaan individu
untuk bertindak/bereaksi terhadap objek tertentu.
C.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Perkembangan Individu
Perkembangan ( Development ) adalah
bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih
kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari
proses pematangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu antara
lain.
1.
Hereditas (Keturunan)
Hereditas merupakan factor pertama
yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan
sebagai “totalitas karakteristik individu yang diwariskan orangtua kepada anak,
atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa
konsepsi sebagai pewarisan dari pihak orangtua melalui gen-gen.
2.
Lingkungan
Lingkungan
adalah segala hal yang mempengaruhi individu, sehingga individu itu
terlihat/terpengaruh karenanya. Semenjak masa konsepsi dan masa-masa
selanjutnya, perkembangan individu dipengaruhi oleh mutu makanan yang
diterimanya, temperature udara sekitarnya, suasana dalam keluarga, sikap-sikap
orang sekitar, hubungan dengan sekitarnya, suasana pendidikan. Dengan kata
lain, individu akan menerima pengaruh dari lingkungan, memberi respon kepada
lingkungan, mencontoh atau belajar tentang berbagai hal dari lingkungan dan
dapat dikemukakan bahwa hubungan antara manusia dengan lingkungan itu bersifat
saling mempengaruhi.
3.
Kematangan
Adalah
“siapnya suatu fungsi kehidupan, baik fisik maupun psikis untuk berkembang dan
melakukan tugasnya.” Dalam arti lain, Kematangan
atau masa peka menunjukkan kepada suatu masa tertentu yang merupakan titik
kulminasi (titik puncak) dari suatu fase pertumbuhan sebagai titik tolak
kesiapan dari suatu fungsi untuk menjalankan fungsinya. (Hurlock, 1956).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Landasan
psikologis ialah landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang
perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Landasan psikologis ini
mencakup beberapa aspek yaitu meliputi: Motif, Konflik, Frustrasi, Sikap. Serta
factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan individu yaitu, Hereditas
(Keturunan), Lingkungan (baik lingkungan keluarga, sekitar, ataupun teman
sebaya), dan Kematangan individu.
B.
Saran-Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan baik
dalam konteks penulisan maupun isinya. Oleh karena itu penulis mengharapkan
kritik, saran, dan masukan yang sifatnya membangun dari para pembaca untuk
menjadikan makalah ini lebih sempurna untuk dijadikan sebagai salah satu sumber
belajar untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas wawasan berpikir bagi para
pembaca.